
Dikisahkan, ada seorang janda petani tua yang bernama mbok Sarni, hidup di desa sebatangkara. Mbok Sarni tidak memiliki seorang anak pun. Setiap hari dia berdoa kepada Tuhan agar bisa dianugerahi seorang anak yang lucu. Doa mbok Sarni tidak pernah ada hentinya.
Suatu hari raksasa Buto Ijo terbangun dari tidurnya dan menuju ke desa untuk mencari mangsa. Penduduk desa berhamburan ketakutan mencari selamat begitu mendengar suara gelegar langkah raksasa itu menuju ke desa. Setelah mendapatkan mangsa dengan memakan penduduk desa, Buto Ijo hendak kembali ke hutan.
Dalam perjalanannya, raksasa Buto Ijo mendengar rintihan doa dari seorang wanita renta yang dari tadi tetap tenang di antara paniknya penduduk desa. Buto Ijo pun mendekati mbok Sarni, si wanita tua itu. Dalam doanya, mbok Sarni memohon kepada Tuhan agar dianugerahi seorang anak. Raksasa Buto Ijo kasihan mendengar suara doa mbok Sarni. Dia seperti berpikir dan mendapatkan sebuah ide. Ternyata, raksasa Buto Ijo mengantongi seorang anak kecil yang masih bayi untuk dibawanya pulang ke hutan. Merasa bahwa anak bayi itu masih terlalu kecil untuk dimakan, dia pun menghampiri mbok Sarni dan menawarkan untuk memberinya seorang anak bayi.
Sekian tahun mbok Sarni mengharapkan kehadiran seorang anak, dan kali ini tiba-tiba raksasa Buto Ijo yang sangat ditakuti penduduk desa itu hendak memberinya seorang bayi untuk dirawat. Tanpa berpikir panjang, mbok Sarni menerima anak bayi pemberian Buto Ijo itu. Bayi yang sangat cantik, kulitnya halus seperti buah mentimun, berwarna kuning keemasan. Buto Ijo langsung memberinya nama Timun Mas dan menyerahkan bayi itu kepada mbok Sarni. Raksasa Buto Ijo mengajukan satu persyaratan. 5 tahun lagi, Buto Ijo akan mendatangi mbok Sarni untuk mengambil Timun Mas. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk bisa memakan si Timun Mas yang sudah besar nanti. Mbok Sarni segera menerima persyaratan yang diajukan raksasa Buto Ijo. Baginya, yang paling penting saat itu adalah keselamatan si bayi nan cantik Timun Mas. Masalah 5 tahun kemudian, mbok Sarni akan memikirkannya nanti. Kesepakatan pun diambil.
Raksasa Buto Ijo kembali ke hutan tanpa membawa bayi Timun Mas. Hari-hari mbok Sarni dipenuhi dengan kebahagiaan. Bersama seorang bayi mungil nan cantik, dia menjalani hidupnya sebagai seorang petani. Menanam padi, jagung dan sayuran selalu dia lakukan bersama Timun Mas. Mbok Sarni juga merawat Timun Mas dengan penuh kasih sayang seorang ibu. Timun Mas tumbuh sebagai anak yang dilimpahi kasih sayang. Badannya gemuk, gerakannya lincah. Dia senang berlarian di kebun dan sawah menunggui mbok Sarni bekerja.
Tiga tahun kemudian, tiba-tiba raksasa Buto Ijo datang ke desa. Semua penduduk desa berhamburan ketakutan akan dijadikan mangsa oleh Buto Ijo. Namun tidak demikian bagi mbok Sarni. Dia berdiam diri di dalam rumah dan menenangkan anaknya, si Timun Mas. Seperti dugaan mbok Sarni, raksasa Buto Ijo mengunjungi rumahnya dan menanyakan keberadaan Timun Mas. Mbok Sarni menunjukkan ke Buto Ijo bahwa Timun Mas masih terlalu kecil. Mbok Sarni mengingatkan bahwa janji Buto Ijo waktu itu akan menagih keberadaan Timun Mas ketika sudah berusia 5 tahun. Buto Ijo pun manggut-manggut mencoba mengerti penjelasan dari mbok Sarni. Dia kembali mencari mangsa yang lain dan segera kembali ke hutan sambil mengingatkan kepada mbok Sarni untuk merawat Timun Mas agar tetap sehat dan gemuk pada usia 5 tahun nanti.
Mbok Sarni semakin gelisah karena waktu yang terus berjalan mendekati hari yang telah disepakatinya bersama raksasa Buto Ijo. Dia terus mencari akal, memohon petunjuk dari Tuhan agar diberi jalan agar Timun Mas bisa selamat. Doa mbok Sarni tidak ada berhentinya memohon sambil menangis, meratap, dan memohon ampun kepada Tuhan agar bisa diberi jalan yang terbaik untuk keselamatan Timun Mas nanti. Hingga suatu malam, mbok Sarni bermimpi dan ditemui oleh seorang kakek pertapa yang meminta Timun Mas agar melarikan diri ke gunung tempat tinggalnya. Kakek itu berjanji akan memberikan bekal kepada Timun Mas untuk digunakan menghadapi raksasa Buto Ijo.
Memasuki tahun ke lima, mbok Sarni semakin banyak memberikan nasehat dan bekal keilmuan kepada Timun Mas. Menjadi seorang anak yang pemberani adalah permintaan utama mbok Sarni kepada Timun Mas. Dia harus siap menghadapi raksasa Buto Ijo yang akan menagih untuk memakan Timun Mas. Siap yang dimaksud bukan untuk berperang melawan Buto Ijo. Namun ketika datang saatnya nanti, Timun Mas harus berlari menuju ke hutan dan bertemu dengan kakek tua yang pernah hadir di alam mimpi mbok Sarni.
Waktu yang tidak dinanti tiba juga. Suara langkah raksasa Buto Ijo mulai terdengar dari tengah hutan. Mbok Sarni yang sedang berada di sawah segera membawa Timun Mas masuk ke dalam rumah. Dia segera memberikan bekal berupa tas keranjang kecil berisi perbekalan untuk Timun Mas menuju hutan dan segera menemui kakek. Timun Mas seperti sudah memahami betul apa yang harus dia lakukan. Dengan bekal doa dan kasih sayang mbok Sarni, Timun Mas segera berlari menuju ke hutan dan mencari keberadaan kakek di puncak gunung. Gadis kecil itu terus berlari, menembus belantara hutan dan menapaki curamnya tanjakan. Tidak sia-sia usaha keras Timun Mas. Dia bertemu kakek pertapa. Kakek itu seperti menunggu kedatangan Timun Mas. Setelah menyelesaikan pertapaannya, dia segera memamanggil Timun Mas, memberi petuah-petuah dan perbekalan dalam menghadapi raksasa Buto Ijo. Timus Mas yang pemberani, masih tidak habis pikir dengan perbekalan pemberian kakek karena hanya berupa bungkusan biji mentimun, jarum, garam dan terasi.
Kakek tidak memberikan penjelasan panjang lebar karena Timun Mas harus cepat-cepat lari dari kejaran raksasa Buto Ijo yang sedang mengamuk di desa mencari Timun Mas. Setelah berpamitan dan minta doa restu dari kakek, Timun Mas segera kembali ke desa untuk menemui mbok Sarni. Keputusan Timun Mas memang berbahaya. Di desa, raksasa Buto Ijo sedang marah besar dan mengamuk. Rasa cinta Timun Mas kepada ibunya telah mengalahkan segala ketakutan dan kekhawatiran terhadap kemarahan raksasa Buto Ijo. Setelah keluar dari hutan, Timun Mas terkejut melihat keadaan desa menerima amukan Buto Ijo. Timus Mas terus berlari menuju rumahnya untuk melihat keadaan mbok Sarni. Belum sampai di rumah, raksasa Buto Ijo langsung menyadari bahwa yang dicari telah tiba di desa.
Ya, raksasa Buto Ijo telah mencium bau anak kecil yang lezat untuk dimakan. Timun Mas telah datang. Raksasa Buto Ijo segera mengejar Timun Mas untuk menangkapnya. Timun Mas kembali berlari menuju hutan. Namun langkahnya sangatlah kecil. Raksasa Buto Ijo semakin mendekatinya dengan mudah. Timun Mas ketakutan, dan segera membuka dan melempar bungkusan pertama pemberian kakek yang berisi biji mentimun. Seketika, ladang di desa tempat Buto Ijo berlari mengejar Timun Mas itu berubah menjadi ladang mentimun. Batang-batang pohon mentimun menjalar dengan cepat dan menjerat kaki raksasa Buto Ijo. Dengan sekuat tenaga, raksasa Buto Ijo berhasil keluar dari jeratan ribuan pohon mentimun dan mengejar Timun Mas lagi.
Sambil berlari, bungkusan kedua yang berisi jarum pun dibuka dan dilempar oleh Timun Mas ke arah raksasa Buto Ijo. Jarum itu segera berubah menjadi hutan bambu yang menghalangi gerakan raksasa Buto Ijo. Pecahan- pecahan batang pohon bambu yang tajam telah banyak menggores tangan, kaki, tubuh dan wajah raksasa Buto Ijo. Dia tampak kesakitan. Namun, raksasa Buto Ijo terus berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari hutan bambu. Dan dia pun berhasil.
Timun Mas menjadi khawatir atas kekuatan yang dimiliki raksasa Buto Ijo. Dia berlari kembali ke arah hutan dan menaiki sebuah bukit. Sesampainya di atas bukit, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam dan melemparnya ke arah raksasa Buto Ijo yang telah berlari mengejarnya kembali. Seketika itu juga, garam yang dilempar Timun Mas berubah menjadi lautan yang dalam dan luas. Buto Ijo yang penuh dengan luka akibat tersayat-sayat pecahan batang bambu merasakan kesakitan yang maha dashyat terkena air garam. Dia hampir tenggelam di lautan itu. Namun dia berhasil bangkit kembali dan terus mengejar Timun Mas ke arah bukit. Bungkusan pemberian kakek tinggal satu. Timun Mas terus berdoa di dalam kekhawatirannya, karena raksasa Buto Ijo telah mampu melewati 3 rintangan berat yang terjadi karena 3 bungkusan pemberian kakek. Timun Mas berdoa dengan penuh ratapan kepada Tuhan agar bungkusan ke- empat ini akan mampu menghentikan kejahatan Buto Ijo. Timun Mas segera membuka bungkusan berisi terasi itu dan melemparnya ke arah laut, dan Buto Ijo masih berada di dalamnya.
Tiba-tiba, laut itu berubah menjadi lumpur yang sangat pekat. Langkah Buto Ijo terus tertahan dengan tubuh yang masih kesakitan. Buto Ijo juga tidak bisa berenang lagi karena laut itu kini telah berubah menjadi lautan lumpur. Raksasa Buto Ijo akhirnya mati tenggelam di dalam lautan lumpur. Setelah lautan lumpur mengering, Timun Mas berlari menuju ke desa untuk melihat keadaan mbok Sarni. Dia terus berlari dan berlari sambil berdoa kepada Tuhan agar ibunya dan penduduk desa diberi keselamatan. Timun Mas terus memanggil-manggil ibunya. Tidak lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara mbok Sarni memanggil nama Timun Mas juga. Mereka pun bertemu dan berpelukan bahagia karena selamat dari amukan raksasa Buto Ijo yang ingin memangsanya.
© Xtiar 2013